Labels

Showing posts with label Info Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Info Kesehatan. Show all posts

Tuesday, 29 March 2016

Efek Konsumsi Alkohol pada Kesehatan Tubuh


Bagi para peminum yang rutin mengkonsumsi alkohol, ada baiknya memikirkan kembali kebiasaan ini, atau paling tidak sebagai komsumer punya pengetahuan cukup untuk di aplikasikan untuk disiplin mengatur tingkat konsumsi alkohol dalam minuman anda. Ini perlu dan penting bagi kesehatan anda mengingat zat ini tidak perlu amat di konsumsi tubuh, apalagi di iklim hangat seperti di Indonesia.


Menurut Dietary Guidelines USDA, yang dimaksud dengan kadar moderat adalah maksimal 1,5 cangkir bir (lima persen alkohol), setengah cangkir anggur (12 persen alkohol) perhari.
Para ahli tidak menyarankan Anda minum alkohol karena manfaat wine dan bir bisa didapat dengan cara lain, misalnya mengonsumsi makanan berfermentasi seperti tempe dan makan buah-buahan beri.

Namun, jika Anda seorang peminum, pikirkan lagi kebiasaan buruk itu. Atau, setidaknya kurangi tidak lebih dari kadar moderat yang dianjurkan. Inilah keuntungan dan kerugian yang akan Anda dapat dari minum alkohol dalam level moderat.

1. Kesehatan jantung
Positifnya : Banyak penelitian menemukan, bahwa alkohol dapat membantu kesehatan jantung, khususnya dalam hal peningkatan kadar HDL, atau Kolesterol baik, dan menurunkan risiko pembekuan darah, yang mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.


Beberapa penelitian menyatakan, red wine lah yang bermanfaat bagi jantung karena mengandung senyawa antioksidan yang kuat. Tetapi ada penelitian lain yang menyebut bahwa alkohol (etanol) itu sendiri lah yang baik untuk jantung Anda.



Negatifnya: Kata kunci dalam semua ini adalah moderat. Beberapa studi mengatakan, bahwa terlalu banyak alkohol dapat secara drastis meningkatkan risiko kematian.


2. Kesehatan tulang
Positifnya : Ada beberapa bukti bahwa konsumsi moderat alkohol dapat membantu meningkatkan kepadatan tulang, khususnya pada wanita pascamenopause.
Keropos tulang adalah masalah besar bagi wanita, lebih dari pria. Ketika tingkat estrogen menurun saat menopause, wanita biasanya kehilangan kepadatan tulangnya lebih cepat daripada sebelumnya.

Negatifnya: Minum alkohol berlebihan dikaitkan dengan peningkatan risiko osteoporosis, karena alkohol menghalangi penyerapan nutrisi.

3. Kanker payudara
Negatifnya: Tidak ada yang positif mengenai alkohol jika menyangkut kanker payudara. Satu evaluasi dari dua studi yang melibatkan populasi yang besar, yang diterbitkan dalam British Medical Journal, mengungkapkann tentang bagaimana alkohol meningkatkan risiko kanker secara keseluruhan.

Para peneliti menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi 5-14,9 g alkohol perhari, mengalami peningkatan risiko kanker payudara. Peningkatan kadar estrogen dan androgen kemungkinan besar menjadi penyebabnya.

Para peneliti juga menunjukkan bahwa jaringan payudara lebih rentan terhadap kerusakan akibat alkohol, daripada organ lainnya.


4. Sistem imun
Positifnya: Ada beberapa bukti, bahwa alkohol dalam jumlah moderat memiliki dampak positif pada kekebalan tubuh.
Alasannya masih belum dipahami dengan baik, tapi review studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition, mengungkapkan bahwa mengonsumsi bir atau wine secara moderat, nampaknya dapat mengurangi kerentanan orang dewasa erhadap infeksi. Dan ini lebih menjanjikan pada wanita dibandingkan pada pria.


Negatifnya: Diketahui juga bahwa minum alkohol terlalu banyak dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, menurut National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism. Inilah mengapa peminum kronis memiliki risiko lebih tinggi tertular penyakit seperti pneumonia.

Penulis : Lily Turangan


Sumber : health.kompas.com

Monday, 28 March 2016

Usia Penderita Penyakit Jantung Semakin Muda






Semakin kompleksnya gaya hidup manusia masa kini, ternyata juga membentuk pola penyakit yang turut mengimbangi gaya hidup yang kurang aktivitas dan gaya asupan yang harus kita telaah kembali mengingat fenomena penyakit Jantung yang makin banyak menjangkiti kalangan usia muda. Mari kita simak info berikut ini.

Sebuah studi terbaru yang akan diumumkan pada perhelatan American College of Cardiology's 65th Annual Scientific Session pada bulan April mendatang menemukan, usia orang-orang yang mengalami jenis serangan jantung terparah menjadi lebih muda dan lebih gemuk dalam dua dekade terakhir. 


Kelompok tersebut cenderung merokok, memiliki tekanan darah tinggi, dan diabetes, yang menurut peneliti semua faktor risiko tersebut sebenarnya dapat dicegah untuk menghindari serangan jantung.

"Secara keseluruhan, pekerja medis telah melakukan usaha luar biasa dalam meningkatkan kualitas pengobatan penyakit jantung, tapi studi ini menunjukkan bahwa kita sudah semestinya melakukan usaha yang lebih baik di sisi pencegahan," kata penulis studi Dr Samir Kapadia, seorang ahli jantung intervensi di Cleveland Clinic. 

"Ketika orang-orang datang untuk melakukan pemeriksaan jantung rutin, sangat penting untuk menekankan pada pasien tentang pentingnya mengurangi faktor risiko melalui pengurangan berat badan, makan makanan yang sehat, dan aktif secara fisik." 

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis faktor risiko penyakit jantung di lebih dari 3.900 pasien yang dirawat karena serangan jantung yang mematikan antara tahun 1995 dan 2014. Serangan jantung terjadi, ketika salah satu arteri utama jantung benar-benar diblokir oleh plak, yang menghentikan aliran darah. 

Jika orang mengalami serangan dan menerima perhatian medis segera, ada kemungkinan untuk tetap hidup, tapi secara keseluruhan, serangan tersebut memiliki risiko kematian dan kecacatan yang tinggi. 

Para peneliti lalu membagi rekam medis pasien serangan jantung yang dikumpulkan selama 20 tahun menjadi empat kelompok, masing-masing mewakili rentang lima tahun. 
Mereka menemukan bahwa antara rentang lima tahun pertama dan rentang lima tahun berikutnya, rata-rata usia pasien yang memiliki serangan jantung mematikan semakin memuda yaitu sekitar 4 tahun lebih awal, misalnya dari usia terbanyak 64 tahun menjadi 60 tahun. 

Sedangkan, obesitas di antara pasien meningkat dari 31 menjadi 40 persen. Peneliti juga menemukan bahwa persentase pasien serangan jantung yang memiliki diabetes meningkat dari 24 menjadi 31 persen, dan persentase pasien dengan tekanan darah tinggi meningkat dari 55 menjadi 77 persen. 

Selain itu, jumlah pasien serangan jantung yang merokok meningkat dari 28 persen menjadi 46 persen. Dan jumlah pasien dengan tiga atau lebih faktor risiko mengalami peningkatan dari 65 menjadi 85 persen. 

Banyak faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami berbagai jenis serangan jantung seperti gaya hidup. Namun faktor tersebut bisa dicegah dengan meningkatkan olahraga, berhenti merokok, dan makan makanan yang sehat. 

Temuan menunjukkan, akan lebih banyak orang yang mampu mencegah masalah jantung dengan menjaga kesehatan jantung mereka dan menerapkan gaya hidup sehat. 

"Jangan menunggu sampai Anda memiliki masalah jantung. Rawatlah diri sendiri dengan memperhatikan gaya hidup dan pilihan makanan," kata Kapadia. "Anda memang perlu berusaha untuk menghindari penyakit jantung yang mematikan." 

Meskipun perawatan medis untuk penyakit jantung telah semakin baik selama bertahun-tahun, temuan menunjukkan bahwa pencegahan adalah kunci terbaik, kata Dr Rajiv Jauhar, kepala kardiologi di Rumah Sakit North Shore University di Manhasset, New York, yang tidak terlibat dalam studi. 

Penulis : Ayunda Pininta 

Sumber : kompas.com


Sunday, 27 March 2016

Aneurisma di Otak Bisa Sebabkan Kematian di Usia Muda

Ilustrasi

Adanya kelainan pembuluh darah di otak, seperti aneurisma sering kali tidak diketahui. Aneurisma adalah penggelembungan darah di otak karena tidak terbentuk lapisan otot pada pembuluh darah di otak. Aneurisma sewaktu-waktu bisa pecah sehingga terjadi pendarahan di otak atau stroke.

Aneurisma yang sebenarnya sudah ada sejak kecil menjadi faktor risiko terjadinya pendarahan di otak pada usia muda. Salah satu remaja diduga memiliki aneurisma, yaitu Gayatri Waillissa (17). Remaja yang menguasai 14 bahasa asing itu meninggal dunia setelah mengalami pendarahan di otak secara mendadak.

Beberapa hari lalu, Reynaldo Arvel, remaja 15 tahun juga dikabarkan meninggal dunia saat misa di gereja, diduga karena aneurisma.

Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Rubiana Nurhayati pada (24/6/2015) lalu mengungkapkan, gejala aneurisma antara lain sakit kepala yang selalu terjadi pada titik yang sama.

Aneurisma yang pecah pada usia muda bisa menyababkan stroke hingga kematian. Kebanyakan orang tidak mengetahui adanya aneurisma di otak sebelum terjadi pendarahan di otak.

Untuk memastikan adanya kelainan pembuluh darah di otak, bisa dilakukan pemeriksaan Magnetic Resonance Angiography (MRA). MRA bisa melihat jelas bagian pembuluh darah di otak.

Dokter spesialis saraf dari RS Gading Pluit Jakarta, Andreas Harry juga pernah mengatakan, aneurisma biasanya terjadi karena faktor kelainan genetik. "Itu biasanya bawaan sejak lahir," kata Andreas ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (24/10/2014).

Selain pemeriksaan MRA, bisa juga dilakukan pemeriksaan aliran darah atau USG doppler. Jika memang terdapat kelainan pembuluh darah di otak, pengobatan yang dilakukan adalah mencegah pecahnya pembuluh darah di otak.

Penulis : Dian Maharani


Sumber : Kompas.com